VIEW  

Search :

Midwife Sri Martini: Has been Through 5 Period of IMA


Sunday, 07/05/2017




 

Begitu berjumpa dengan sosok bidan satu ini, kita akan langsung paham bahwa ada sebaris pengalaman panjang yang telah dia lalui sebagai bidan. Betul saja, Bidan Sri Martini (70 tahun) sejak tahun 1966 telah memulai karir sebagai bidan. Padahal, tak satupun terbersit cita-cita menjadi bidan dalam daftar masa kecilnya dulu. Adalah sang kakak nomor dua yang secara diam-diam mendaftarkan dirinya  menjadi  bidan di sekolah kebidanan, Rumah Sakit Katolik di Surabaya tahun 1963.

Pengalaman paling berkesan adalah ketika menerima pasien hipertensi di daerah Cempaka Putih pada tahun 1980an, dan sosok bayi sudah muncul kakinya lebih dulu, alias sungsang.  Ketika hendak dirujuk ke rumah sakit, pasien menolak. Dengan segala bujuk rayu, Bidan Sri memanggil taksi agar segera dibawa ke rumah sakit. Mungkin karena merasa akan mendapat pertolongan, sang ibu berupaya untuk tetap melahirkan dengan segala kondisi yang ada. Alhasil, sang bayi lahir selamat, meskipun sungsang,  sebelum taksi datang. Itu adalah pengalaman yang menegangkan. Sebagai bidan, dia paham betul bahwa  pasien hipertensi sangat beresiko untuk terjadinya kematian.

Dalam masa pengabdiannya, Bidan Sri kemudian secara aktif menjadi pengurus Ikatan Bidan Indonesia (IBI) sebagai Ketua Ranting Tanjung Priok sejak tahun 1971. Kemudian berlanjut menjadi bendahara pada Kantor Cabang Jakarta Utara pada tahun 1980-an, hingga kemudian bergabung di Kantor Pusat IBI sejak 1993.

Bidan yang lahir sebagai anak nomor 5 dari 12 bersaudara ini, praktis sejak 1993 telah melewati lima periode kepemimpinan.  Kepemimpinan IBI akan berganti  untuk priode lima tahunan, atau bisa dipilih kembali hingga periode kedua kalinya.

Bidan Sri memulai bergabung di IBI sejak kepemimpinan Nisma Chairil Bahri (1993-1998), kemudian berlanjut kepada penerusnya Wastidar Musbir, SKM (1998-2003), Dr. Harni Koesno, MKM (2003-2013), dan Dr. Emi Nurjasmi, M.Kes (2013-2018). Kalau dihitung, pengabdian Bidan Sri di Kantor Pusat IBI telah lebih dari 23 tahun lamanya. Ini adalah pengabdian yang panjang, apalagi untuk bidan yang telah berusia 70 tahun.

Ketika ditanya mengapa sebagai bidan kemudian tertarik di bidang administrasi dan keuangan, Bidan Sri menjawab bahwa itu semua karena penugasan, dan dia harus menunjukkan kepada pimpinan bahwa dia mampu. Toh, Bidan Sri pernah bekerja di Puskesmas yang berurusan dengan program dan keuangan.

Berbagai pengalaman suka dan duka sebagai bidan telah dia lampaui, hingga kemudian sejak tahun 1995 bidan Sri tidak lagi berpraktek sebagai bidan mengingat faktor usia.  “Saya senang bisa membantu dan menolong ibu yang melahirkan, apalagi kalau lahir selamat. Itu membuat saya merasa bahagia, karena bisa membantu orang lain.” Pungkasnya, seolah mengenang perjalanan hidupnya dulu sebagai bidan yang menolong persalinan.

MORE ARTICLE

Letter of Agreement on Higher Education of Midwifery

Pada hari ini, Senin, Sebelas September Dua Ribu Tujuh Belas telah dicapai kesepakatan antara Kemristekdikti, BPPSDM Kemkes, Asosiasi Institusi Pendidikan Kebidanan Indonesia (AIPKIND), dan lkatan Bidan Indonesia (181) bahwa:
Read more...
Monday, 18/12/2017

An Open Letter from The Duchess of Cambridge to Midwives



Ahead of 2020's International Year of the Nurse and Midwife, The Duchess of Cambridge has written an open letter to midwives across the country.
Read more...
Thursday, 02/01/2020

[Info International Conference] World Congress on Breast Cancer Gynecology and Women Health

World Congress on Breast Cancer Gynecology and Women Health September 06-07, 2018 | Bangkok, Thailand “Exploring Multidisciplinary Approaches for Innovatory strategies on Women’s Health”
Read more...
Wednesday, 01/08/2018